INTRODUCTION
Prinsip utama yang dikedepankan dalam persiapan lahan bagi perkebunan kelapa sawit adalah “zero burning”
Tahapan dalam persiapan lahan :
1. Penyusunan Tata Ruang 2. Rintis-Blocking
3. Persiapan Lahan
• Eks Hutan Sekunder Mineral • Lalang
• Replanting
       
      PENYUSUNAN TATA RUANG
Penyusunan Tata Ruang dilakukan berdasarkan hasil survey kesesuaian lahan dilakukan,adapun cakupan rencana penyusunan tata ruang adalah sebagai berikut :
1. Jaringan jalan terutama untuk jalan penghubung keluar dan masuk lokasi.
2. Batas kebun dan batas kerja kontraktor.
3. Lokasi bibitan.
4.Outlet drain berdasarkan kondisi lahan (darat, rawa,
bukit dan sungai).
5. Pembagian blok berdasarkan kondisi lahan
6. Lokasi pemukiman karyawan, kantor, pabrik dan
bangunan lainnya.
     
   RINTIS - BLOCKING
Pedoman dalam pembuatan blok dan jalan di areal datar :
a. Berdasarkan peta rencana blok, dilakukan kegiatan rintis MR arah Timur – Barat dan CR arah Utara – Selatan dengan menggunakan theodolite oleh PMNP.
b. Jarak titik pancang antar MR adalah 1.012,25 m dan antar as CR adalah 308,2 m
• Lebar blok 301,2 m dan panjang 1.003,25 m. • LebarMR9mdanCR7m.
“Khusus untuk areal berbukit dilakukan imas tumbang terlebih dahulu sebelum pembuatan jalan dan blocking. Blocking ditentukan berdasarkan batas jalan dan luasnya tidak harus 30 ha.”
     
      PERSIAPAN LAHAN EKS HUTAN SEKUNDER MINERAL
1. Imas
• Mengimas merupakan kegiatan memotong anak kayu dan tanaman merambat lainnya yang berdiameter di bawah 10 cm dengan menggunakan parang dan kampak.
• Pemotongan anak kayu harus putus dan diusahakan serendah mungkin atau dekat dengan tanah.
• Tujuan mengimas untuk memudahkan penumbangan pohon dan pelak-sanaan perun mekanis.
• Vegetasi areal sepanjang aliran sungai harus dipertahankan dengan jarak 50 m dari bibir sungai kecil (lebar: <30 m) dan 100 m dari sungai besar (lebar: >30 m).
         
      PERSIAPAN LAHAN EKS HUTAN SEKUNDER MINERAL
2. Tumbang
    Diameter batang Ditebang dari permukaan tanah maksimum
  >10 – 15 cm 15 cm (serapat mungkin dengan tanah)
  16 – 30 cm 25 cm
  31 – 75 cm 50 cm
  76 – 150 cm 100 cm
  > 150 cm Ditebang pada batas antara akar penguat dengan batang utama
       Ketentuan lain yang perlu diperhatikan dalam penumbangan :
1. Hasil tumbangan tidak dibenarkan melintang di atas alur air dan jalan. 2. Harus dilakukan secara tuntas
3. Pohon yang masih tegak tetapi sudah mati tidak perlu ditumbang sampai
pada waktu dilakukan perumpukan (perun mekanis).
   
      PERSIAPAN LAHAN EKS HUTAN SEKUNDER MINERAL
3. Perun Mekanis
    Jenis alat Vegetasi Topografi
Posisi Kerapatan Rumpukan Vegetasi
  Bulldozer Hutan sekunder, Gelombang, Sedang - semak belukar darat, datar 4 : 1 rendah
  Bulldozer dan Hutan sekunder, Bukit, Sedang - Excavator semak belukar gelombang Antar teras rendah
  Excavator Hutan sekunder, Rendahan Sedang - semak belukar 2 : 1 rendah
      Perun mekanis dengan menggunakan bulldozer dan/atau excavator merupakan kegiatan merumpuk kayu hasil imasan dan tumbangan pada gawangan mati sejajar baris tanaman dengan arah Timur – Barat.
   
      PERSIAPAN LAHAN EKS HUTAN SEKUNDER MINERAL
4. Pancang jalur rumpukan
• Pancang jalur rumpukan dipasang di jalur rencana rumpukan batang dan berada di gawangan mati
• Tinggi pancang 4 m dan harus dipasang bendera putih supaya mudah dilihat oleh operator excavator/bulldozer.
• Setiap jarak + 50 m diberikan pancang pembantu sehingga terdapat 6 – 8 pancang pembantu dalam jaluran.
• Pada jarak 150 (inti) atau 200 (plasma/KKPA) meter dibuat tanda tidak boleh dirumpuk karena akan digunakan sebagai jalan kontrol dengan lebar + 4 meter, demikian juga dari pinggir jalan tidak ada rumpukan dengan lebar + 4 meter.
           
      PERSIAPAN LAHAN EKS HUTAN SEKUNDER MINERAL
4. Pelaksanaan perun mekanis
• Posisi bulldozer atau excavator berada di gawangan hidup
• kegiatan pengumpulan atau perumpukan kayu-kayu / belukar diatur dalam gawangan mati sejauh + 2,5 m dari radius pohon sawit dan harus diletakkan rata di permukaan tanah.
• Top Soil diusahakan seminimal mungkin terkikis oleh pisau bulldozer, posisi pisau diatur + 10 cm di atas permukaan tanah dan/atau pisau dipasang gigi.
           
PERSIAPAN LAHAN EKS HUTAN SEKUNDER MINERAL
5. Cincang Jalur
 Areal Datar
1. Membebaskan jalur tanam dan titik tanam dari kayu / belukar yang masih
melintang pada jalur tanam dan disusun di jalur rumpukan.
2. Membuat jalur rintis tengah untuk jalan kontrol selebar 4 m arah Utara
Selatan harus bebas dari kayu / belukar .
3. Menentukan jumlah rumpukan jalur ditetapkan sebagai berikut:
• Pada areal dengan vegetasi padat penentuan ratio rumpukan 1 : 2.
• Pada areal dengan vegetasi sedang sampai ringan ratio rumpukan 1 :
4.
• Lebar rumpukan +/- 3 meter dengan ketinggian maksimal 2 m.
 Areal Berbukit
Penempatan rumpukan dilakukan mengikuti arah kontur dan kayu-kayu yang melintang pada jalur kontur tanaman harus dipotong dan disusun di jalur rumpukan.
               
      LALANG
1. Sistem Kimiawi
Pembasmian lalang dapat dilakukan secara kimia yaitu menggunakan glifosat/sulfosat dengan dosis anjuran antara 6 – 10 liter per hektar blanket tergantung kondisi lalang dan kualitas air.
    Kegiatan Dosis/Ha
 Waktu
 Semprot total 6 l/ha blanket
awal pembukaan areal.
 Spot spraying 1 6 l/ha & vol %
3 minggu setelah semprot total.
 Spot spraying 2 6 l/ha & vol %
 4 minggu setelah spot spraying 1.
 Initial wiping 0,05 l/ha/rotasi
 4 minggu setelah spot spraying 2 .
 FolIow-up wiping 0,05 l/ha/rotasi
dilanjutkan 2 rotasi lagi dengan jarak 4 minggu per rotasi.
 Routine wiping 0,05 l/ha/rotasi
dilakukan setelah follow up wiping rotasi ke 2 dengan rotasi 3 bulan sekali.
                 
      LALANG
Pembasmian lalang secara kimia juga dapat dilakukan secara mekanis menggunakan Boom Sprayer.
• Boom Sprayer ini terdiri atas tangki yang dipasang di belakang traktor
• Untuk semprot lalang blanket, digunakan Boom Sprayer kapasitas tangki
600 l, panjang boom 6 m dengan extension 1 m kiri dan 1 m kanan.
Setiap 2 m terdapat 4 nozzle sehingga jarak antar nozzle 50 cm.
• Untuk tipe Boom Sprayer 600 l, pemilihan traktor 4 WD yang minimal 50
HP.
• Diperlukan kalibrasi flow rate dan menentukan kecepatan traktor yang
sesuai untuk mendapatkan application rate – liter per hektar.
• Prestasi penyemprotan lalang tergantung pada kecepatan pergerakan
traktor dan panjang boom yang digunakan.
• Direkomendasikan kecepatan traktor 6 km/jam dengan tekanan 3 bar
dan kebutuhan air 160 l/ha. Prestasi biasa dapat dicapai sekitar 1,5 ha/BU, dan apabila kondisi kondusif dan operator sudah trampil bisa sampai 2 ha/BU.
         
      LALANG
      Contoh Boom Sprayer
   
      REPLANTING
 “Harus dilakukan sensus pohon yang masih hidup, pohon tumbang dan titik kosong dengan menggunakan stiple card, sebagai dasar penentuan harga kontrak”
         
      REPLANTING
Sistem ini menggunakan excavator yang dilengkapi dengan chipping bucket untuk mencacah batang menjadi bagian kecil sehingga cepat kering dan lapuk.
Pelaksanaan sistem ini dilakukan dengan cara :
• Membuat pancang untuk menentukan jalur rumpukan dengan ratio 2 : 1. Pancang di dalam jalur dipasang setiap 50 m.
• Membongkar pohon yang masih tegak sampai ke akar-akarnya dan selanjutnya lubang bonggol ditutup kembali dengan tanah baru.
• Mencacah (chipping) dimulai dari mahkota daun, batang dan bonggol dengan tebal maximum 12 cm dan panjang 60 cm. Hasil chipping disebar merata di gawangan mati minimum 1 meter dari jalur tanam dan dipastikan daun berada dibawah.
• Mencacah (chipping) tetap dilakukan apabila terdapat pohon yang mati dan dibuat lubang seperti di b dan c di atas.
A. Areal Non Ganoderma
1. Sistem chipping
         
      B. Areal Ganoderma
REPLANTING
1. Kegiatan sebelum replanting
Areal yang terkontaminasi Ganoderma yang akan direplanting pada 3 tahun kedepan, perlu perlakuan sebagai berikut :
• Hanya pokok yang terinfeksi dan tanaman sudah tidak produktif saja yang dibuat perlakuan (tumbang, gali, bajak/plough dan expose).
• Perlakuan bajak 2 kali, apabila ada  10 titik tanam yang mengelompok (termasuk bonggol yang lama) jika < 10 titik tanam maka cukup digali saja.
• Ukuran lubang 1x1x1 meter.
         
      PANCANG DAN KERAPATAN TANAM
“Pancang titik tanam dilakukan sesudah dibuat layout MR dan CR, agar arah barisan tanaman dapat dibuat rapi. Pembuatan pancang tanam diawali dengan pemasangan pancang kepala.”
1. Pancang Tanam Areal Datar Sampai Berombak
• Pancang kepala dipasang dengan jarak antar pancang 500 m memanjang blok dan setiap 100 m searah lebar blok.
• Diantara pancang kepala dipasang anak pancang
• Jarak antar anak pancang di areal datar sampai berombak ditentukan
berdasarkan kerapatan tanamnya
• Pola tanam segitiga sama sisi. Kerapatan tanaman per hektar
didasarkan pada kondisi lahan dan pola pengelolaan
         
      PANCANG DAN KERAPATAN TANAM
2. Pancang Tanam Areal Berbukit
• Sebelum kegiatan pancang tanam dilakukan, terlebih dahulu diawali pembuatan teras kontur.
• Dalam pembuatan teras kontur, jarak horizontal antara teras kontur akan bervariasi tergantung dengan perbedaan lereng (idealnya 9m)
• Warna pancang dari setiap teras harus berbeda supaya tidak terjadi berpotongan pembuatan teras dari level satu ke lainnya.
• Apabila jarak antara pancang teras kurang dari 7 m , maka pemancangan untuk pembuatan teras harus dihentikan dan diberi rambu silang
• Sebaliknya jika jarak antara pancang teras lebih dari 12 m, maka harus dibuat anak teras dengan cara menambah jalur pancang anak teras dengan warna pancang yang berbeda.
• perlu dilakukan penyesuaian jarak tanam sepanjang teras kontur untuk mendapatkan kerapatan tanaman yang merata dan standar,
         
      PANCANG DAN KERAPATAN TANAM
2. Pancang Tanam Areal Berbukit Penentuan Base Line
“Base line adalah pancang kepala yang merupakan pedoman awal dalam melakukan leveling teras”
           
      PANCANG DAN KERAPATAN TANAM
2. Pancang Tanam Areal Berbukit
Pembuatan base line adalah sebagai berikut:
a. Base line dikerjakan bukit per bukit.
b. Cari kemiringan rata-rata dimana tidak terlalu datar dan tidak terlalu
terjal.
c. Pemancangan dimulai dari lokasi/bukit tertinggi sampai ke kaki bukit
dengan jarak antar pancang 9 m horizontal dengan bantuan alat
Theodolite.
d. Pancang base line diberi warna merah, putih dan biru berulang-ulang
dari pancang awal sampai pancang terakhir di kaki bukit.
         
      PANCANG DAN KERAPATAN TANAM
2. Pancang Tanam Areal Berbukit Penentuan pancang teras (leveling)
a. Pancang teras pertama dimulai dari pancang base line pada kemiringan 90 (derajat).
b. Pembuatan pancang teras menggunakan teodolite
c. Warna pancang teras sesuai dengan warna pancang base line
d. Warna pancang teras dibedakan dengan tujuan untuk mencegah
terjadinya perpotongan antar teras oleh alat berat pada saat bekerja.
e. Bila jarak antar teras < 7m, maka pemancangan dihentikan dan diberi
tanda ”Cross” ( X ).
f. Sebaliknya jika jarak pancang antar teras > 12m, maka dibuat pancang
anak teras (teras sisip) dengan warna pancang yang berbeda.
g. Pancang akan menjadi “batas atas / posisi backdrop” teras pada saat
bulldozer bekerja.
         
      PANCANG DAN KERAPATAN TANAM
2. Pancang Tanam Areal Berbukit (Pemancangan violle system model ”L”)
Bahan
• Tali sling panjang 22 m.
• Cat(8warna).
• Kawat,paku.
• Batangkayu.
• Pipa dan Elbow
Paralon 1/2”.
           
      PANCANG DAN KERAPATAN TANAM
2. Pancang Tanam Areal Berbukit (Pemacangan violle system model ”L”) Cara Pembuatan ’L’ Paralon :
a. Potong Paralon panjang 20 cm.
b. Buat lobang pada salah satu ujung paralon.
c. Masukan (lem) paralon ke dalam Elbow (model ’L’).
d. Sling dicat warna.
e. Paku pada ujung batang kayu setiap 20 cm sebanyak 5 titik.
           
      PANCANG DAN KERAPATAN TANAM
2. Pancang Tanam Areal Berbukit (Pemancangan violle system model ”L”) SKETSA TALI SELING WARNA (Panjang tali 21 m)
           
      PANCANG DAN KERAPATAN TANAM
2. Pancang Tanam Areal Berbukit (Pemacangan violle system model ”L”) Cara kerja violle system model ”L”
a. Satu team terdiri dari 3 orang. Orang ke-1 di teras atas (tebing teras atas), orang ke-2 dan ke-3 di teras bawah (orang ke-2 pegang ”L”, orang ke-3 memancang).
b. Jarak tanam pada teras pertama/paling atas dilakukan secara manual dengan menggunakan alat ukur meteran
c. Orang ke-1 bertugas memastikan posisi ujung sling pada tebing teras atas.
d. Orangke-2bertugas:
• Memastikan posisi sling tegak lurus.
• Posisi elbow pada titik tanam teras bawahnya.
• Menginformasikan warna sling yang terlihat di elbow kepada orang ke-3. e. Orang ke-3 bertugas memancang pada titik – warna yang disebutkan orang ke-2.
f. Posisi sling senantiasa horizontal.
g. Pada teras tinggi dibantu batang kayu penyangga.
         
      PANCANG DAN KERAPATAN TANAM
2. Pancang Tanam Areal Berbukit (Pemancangan violle system model ”L”)
Sketsa pemancangan
 Catatan : khusus untuk populasi 136 pkk/ha
         
      PANCANG DAN KERAPATAN TANAM
2. Tanam Areal Berbukit (Perhitungan jarak tanam)
 “Untuk mendapatkan kerapatan tanaman per hektar sesuai standar, maka perlu ditentukan jarak tanam di dalam teras”
         
      PANCANG DAN KERAPATAN TANAM
2. Pancang Tanam Areal Berbukit (Perhitungan jarak tanam)
Contoh cara menghitung jarak tanam, jika jarak base line antar teras =
9 m dan kerapatan pohon yang diinginkan = 136 per ha sbb. :
1ha =
10.000 m2 136 pohon
=73,52m2
       Maka jarak tanam dalam teras =
73,52 m2 9m
= 8,2 m
       
      PANCANG DAN KERAPATAN TANAM
3. Penanaman pada Teras dan Tapak Kuda
• Titik tanam sekitar 1,0 – 1,2 m dari tebing teras. Penanaman pada tapak kuda, titik tanam harus berada 0,5 m dari tebing.
4. Kerapatan Tanam di Areal Lembah
• Sawit yang ditanam pada lembah yang curam seringkali mengalami etiolasi.
• Titik tanam awal berjarak horizontal 9 m dari pohon terakhir yang ditanam di tebing dan jarak selanjutnya mengikuti ketentuan standar
5. Pohon Sawit yang Terletak di Pinggir Jalan/Pinggir Parit
• Apabila titik tanam bertepatan pada jalan atau parit, maka harus dipindah-kan minimal 2 m dari pinggir jalan atau parit, dengan mempertimbangkan jarak pohon sawit yang berdekatan minimal 6 meter.
           
      KONSERVASI LAHAN
Berfungsi untuk :
a. Membantu pertumbuhan, pemeliharaan dan panen yang efektif.
b. Meminimalkan erosi dan aliran permukaan.
c. Meningkatkan infiltrasi air.
d. Menjaga atau mempertahankan kelembaban tanah.
e. Mengupayakan agar tanaman memperoleh cahaya yang cukup.
1. Teras Konservasi
Pada daerah dengan kemiringan 5 o - 8 o, teras konservasi dengan lebar 2 m dibuat secara mekanis dengan jarak antar teras 35 - 50 m. Tapak kuda dengan rorak dapat dibuat secara selektif jika diperlukan.
           
      KONSERVASI LAHAN
2. Teras Kontur
• Pada daerah berbukit dengan kemiringan 9o – 22o dibuat teras kontur dengan lebar 3 m s/d 4,5 m secara mekanis.
• Stop bund harus dibuat setiap jarak 30 m dengan lebar dan tinggi 60 – 70 cm dengan panjang  2 m dari tebing.
Teras Kontur
           
      KONSERVASI LAHAN
3. Tapak Kuda dengan Rorak
• Pada bagian areal tertentu yang dapat ditanami tetapi tidak memung- kinkan dibuat teras kontur, maka harus dibuat tapak kuda dengan lebar 2,5 m mengikuti kontur yang harus dikombinasikan dengan rorak.
Tapak kuda dengan rorak
           
      KONSERVASI LAHAN
4. Tanaman Konservasi
• Tanaman Vetiver atau Guatemala sangat bermanfaat untuk mencegah erosi karena perakaran yang dalam mencapai 3 m dan struktur perakarannya sangat baik.
• Guatemala khusus untuk pinggir sungai yang berpotensi erosi
• Pengembangan tanaman ini dilakukan dengan membagi rumpun men-
jadi bagian kecil dan ditanam berjarak 50 cm.
• Agar perkembangan lebih cepat dilakukan pemangkasan daun setinggi
25 cm setiap 3 bulan.
         
      KACANGAN
1. Persiapan Lahan untuk Tanam Kacangan
• Jalur tanam kacangan harus bebas gulma.
• Penyemprotan herbisida untuk areal lalang dilakukan sebanyak 3 kali
dengan interval 3 minggu, sedangkan areal non lalang cukup 2 kali
dengan interval 4 minggu.
• Penanaman kacangan dapat dilakukan 2 minggu setelah penyemprotan
terakhir.
         
      KACANGAN
2. Tanaman Kacangan Muccuna bracteata
a. Perbanyakan dengan biji (generatif)
• Sebelum dilakukan penanaman biji harus disortir dipisahkan antara biji yang bulat dan yang gepeng/keriput.
 • Pengecekan biji dapat dilakukan dengan memotong ujung biji alat pemotong kuku. Klasifikasi biji setelah dilakukan dibedakan sbb.:
dengan perlukaan
    Benih bagus Benih sedang Benih rusak
: cotyledon berwarna putih.
: cotyledon berwarna coklat.
: cotyledon berwarna hitam, rusak, berlubang.
 • Benih yang telah dilukai tidak boleh disimpan harus ditanam pada hari yang sama.
• 1 kg Mb mengandung  6000 benih. Kebutuhan benih = 0,14 kg/ha.
• Benih yang baik harus memiliki persentase daya tumbuh kecambah 50%
   
      KACANGAN
2. Tanaman Kacangan Muccuna bracteata b. Perbanyakan dengan bibit (vegetatif)
 Sistem stek
• Sulur yang dipilih harus sulur yang dewasa dan berwarna hijau, diambil 4 ruas dari
pucuk. Tiap stek minimum terdiri dari 2 (dua) ruas, satu ruas ditanam dalam
tanah.
• Sebelum ditanam di polybag, stek terlebih dahulu direndam dalam hormon
pertumbuhan akar (Rootone F).
           
      KACANGAN
2. Tanaman Kacangan Muccuna bracteata b. Perbanyakan dengan bibit (vegetatif)
 Sistem runduk
• Perbanyakan stek bisa langsung dilakukan di lapangan, caranya membuat
lingkaran dengan menyatukan dua ruas yang ditanam dalam kantong
plastik.
• Harus ada dua ruas yang diatas polybag yang diharapkan akan tumbuh tunas
baru.
• Ujung sulur pucuk minimal 4 ruas.
• Kantong plastik digunakan harus transparan untuk mengetahui pertumbuhan
dan jumlah akar.
         
      KACANGAN
2. Tanaman Kacangan Muccuna bracteata c. Pembibitan kacangan Mb
Adapun teknis pembibitan tanaman kacangan Mb adalah sebagai berikut :
• Isi baby polybag dengan media tanam 2 bagian tanah (dari areal yang tidak terinfeksi ganoderma) dan 1 bagian pasir, agar media tidak jenuh
air yang menyebabkan bibit mati.
• Tanam 1 benih per polybag dengan hilum pada bagian bawah dengan
kedalaman  0,5 cm.
• Lakukan penyiraman 2 (dua) kali sehari.
• Bedengan bibitan diberi alas plastik supaya akar tidak tembus ke dalam
tanah diluar polybag.
• Lakukan penyemprotan apabila ada serangan hama dan penyakit.
• Bibitan tidak perlu diberi naungan.
         
      KACANGAN
2. Tanaman Kacangan Muccuna bracteata d. Penanaman dan perawatan kacangan Mb
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat penanaman dan perawatan tanamana kacangan Mb adalah sebagai berikut :
• Penaman di lapangan dilakukan 6 s/d 8 minggu setelah perke-cambahan.
• Kebutuhan bibit = 3 bibit per pokok sawit.
• Perawatan umur 1 - 3 bulan dilakukan perawatan manual dengan membersihkan gulma di sekitar tanaman Mb, dilakukan rotasi setiap 2 minggu, sekaligus menarik/mengumpulkan sulur ke arah induk (seperti menyanggul).
• Perawatan umur > 3 bulan dilakukan semprot di kanan kiri jalur Mb setiap bulan dan setiap 2 minggu dilakukan penarikan sulur yang menjalar agar tidak kena semprot. Pekerjaan tarik sulur sebelum semprot dilaksanakan 2 -3 hari sebelum semprot.
• Bila Mb sudah menutup, maka untuk perawatan piringan dan pasar pikul menggunakan floroksipir 0,375 l/ha (blanket), 4 (empat) minggu sekali sampai akhir tahun.
• Perawatan piringan dan pasar pikul tahun ke-2 menggunakan glifosat 1,5 l/ha dan floroksipir 0,25 l/ha blanket dengan rotasi 5 minggu sekali atau 10 R/tahun. Untuk DAK dan wiping disesuaikan dengan kondisi.
         
      KACANGAN
2. Tanaman Kacangan Muccuna bracteata
e. Pola penanaman tanaman Mb pada rumpukan 1:2
         
      KACANGAN
2. Tanaman Kacangan Muccuna bracteata
e. Pola penanaman tanaman Mb pada rumpukan 1:4
         
      KACANGAN
2. Tanaman Kacangan Muccuna bracteata
e. Pola penanaman tanaman Mb pada areal terasan
         
      KACANGAN
3. Tanaman Kacangan Calopogonium mucunoides dan Pueraria javanica
 Campuran kacangan sebagai berikut :
Calopogonium mucunoides 6 kg/ha
Pueraria javanica 3 kg/ha
Kacangan Cm dan Pj sebelum ditanam dicampur dengan Rock Phosphate perbandingan 1 :1.
Daya tumbuh kacangan yang digunakan minimum harus 70%.
         
      KACANGAN
3. Tanaman Kacangan Calopogonium mucunoides dan Pueraria javanica a. Penanaman di areal datar
• Penanaman kacangan di areal datar dilakukan dengan compressed band Campuran kacangan PJ dan CM ditanam sebanyak 3 jalur dengan jarak antar jalur 30 cm dilakukan di tengah gawangan yang tidak ada rumpukan.
• Campuran kacangan PJ dan CM ditanam di kanan dan kiri jalur rumpukan dengan jarak 50 cm dari rumpukan.
         
      KACANGAN
3. Tanaman Kacangan Calopogonium mucunoides dan Pueraria javanica b. Penanaman di areal teras kontur
Penanaman di areal berteras dilakukan dengan cara :
• Campuran kacangan PJ dan CM ditanam dengan sistem 2 larikan yaitu
larikan pertama ditanam di pinggir bagian dalam teras, larikan ke
kedua ditanam 50 cm dari pinggir teras .
• Benih kacangan PJ dan CM ditanam dengan kedalaman 2 cm di bawah
permukaan tanah. Setelah benih ditabur, ditimbun kembali. Penanaman kacangan sebaiknya di saat tanah lembab.
         
      KACANGAN
3. Tanaman Kacangan Calopogonium mucunoides dan Pueraria javanica b. Penanaman di areal teras kontur
         
      KACANGAN
3. Tanaman Kacangan Calopogonium mucunoides dan Pueraria javanica c. Perawatan kacangan Pj dan Cm
Perawatan dimulai setelah kacangan berumur 1 bulan.
• Kegiatan dangir secar manual dalam jalur compressed band sele- bar 1,2 m selama tiga bulan dengan rotasi satu kali sebulan agar kacangan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
• Mulai bulan kedua dilakukan pengendalian gulma dengan khemis pada kanan dan kiri baris kacangan selebar 120 cm secara bertahap setiap bulannya sampai bebas gulma dan kacangan menutup areal secara merata.
         
      KACANGAN
3. Tanaman Kacangan Calopogonium mucunoides dan Pueraria javanica d. Ketentuan Lain dalam Penanaman Kacangan
• Kacangan tidak boleh ditanam di daerah yang selalu mengalami banjir.
• Kacangan harus ditanam secepat mungkin setelah persiapan lahan.
• Benih kacangan harus ditanam pada lahan dengan kondisi bebas gulma.
         
      PENANAMAN KELAPA SAWIT
A. Lubang Tanam
1. Lubang tanam di tanah mineral
• Lubang tanam ukuran 60 cm x 60 cm x 40 cm harus disiapkan sebelum penanaman dilakukan.
• Pada areal rendahan yang terpencar dan pada musim hujan tergenang air walaupun sudah ada parit drainase maka pungguhan diameter 3 m dengan tinggi sekitar 60 - 80 cm harus dibuat sebelum penanaman dilakukan.
• Pembuatan lubang tanam secara mekanis, bisa dilakukan dengan penggunaan Post Hole Digger (PHD).
• Alat PHD dipasang dibelakang traktor pada 3-point linkage dan digerakan oleh PTO traktor.
         
      PENANAMAN KELAPA SAWIT
A. Lubang Tanam
1. Lubang tanam di tanah mineral
       Post hole digger
   
      PENANAMAN KELAPA SAWIT
A. Lubang Tanam
2. Penanaman Kelapa Sawit
Dilakukan dengan tahapan :
• Pembuatan lubang tanam.
• Pada tanah mineral, tanah top soil dipisahkan ke kiri dansub soil ke kanan.
• Lubang tanam dapat digeser minimal 1,5 m dalam barisan tanaman.
• Pada areal rendahan, jika pada lubang tanam masih terdapat genangan air maka harus
dikuras sebelum bibit ditanam.
• Pemberian pupuk dilubang tanam sesuai dengan dosis yang direkomendasikan.
• Bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan posisi tegak dan terlebih dahulu
polybag disobek.
• Penimbunan lubang tanaman dengan top soil, setelah setengah bagian lubang terisi
tanah, lalu dipadatkan pada bagian pinggir polybag.
• Kemudian lubang diisi penuh dengan tanah dan dipadatkan kembali sampai tinggi
tanah timbunan 5 cm di atas permukaan tanah di polybag.
• Konsolidasi harus dilakukan untuk menegakkan tanaman yang miring dan menyisip
titik tanam yang kosong.
• Polybag bekas tidak ditinggalkan di lapangan tetapi harus dikumpulkan di tempat yang
telah ditentukan.
         
       Modul Persiapan Lahan

     Gambar Tapak Kuda :
A. Samping B. Atas
   Modul Persiapan Lahan

   GAMBAR teras kontur
    Modul Persiapan Lahan

   Pancang Tanam di Areal Berbukit
    Modul Persiapan Lahan

    Pembuatan Teras
    Modul Persiapan Lahan

  Penanaman Pada Teras
 Countur
Maks kelerengan 40%
Jelaskan
     Modul Persiapan Lahan

          Modul Persiapan Lahan

   TERRACE CONTOUR
   
   Teras bersambung & individu
   
    Dykes (guludan)
   
   PERSIAPAN LAHAN
 Kriteria Replanting :
 FFB/Ha /thn < 14 Ton  Density < 90 pkk
 
   KONSERVASI TANAH
        Teras bersambung & individu Pembuatan guludan
   Penutup tanah : dengan MB

    KONSERVASI TANAH
  Penutup tanah ( Cover Crop )
       
  AREAL SIAP TANAM
        
±
Rp 12 juta
Biaya per Ha :
Populasi per ha : 143 pohon/ha
 
   JARAK TANAM
   d
Menghitung Populasi
engan jarak tanam segitiga sama sisi
  Modul Persiapan Lahan

 PANCANG TITIK TANAM
PANCANG BERIGADE
TANAM

    Gambar pola tanam
   Modul Persiapan Lahan

   Populasi = Luas lahan
Jarak tanam X Tinggi
Contoh soal : PT. SPKS mempunyai lahan seluas 1000 HA,akan ditanami kelapa sawit dengan jarak tanam 9x9.Berapa jumlah populasi sawit yang dibutuhkan?
 Jawab : Populasi =
=
=
Luas lahan
Jarak tanam X Tinggi
10.000.000 9 x (sin 60 x 9)
10.000.000 70,2
      = 142.415
=
Modul Persiapan Lahan

   Pola Tanam harus berbentuk Segi Tiga Sama Sisi
    Modul Persiapan Lahan

     

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ambigu yang jelas